6 Sistem Edan Orang Jepang Melepaskan Depresi. Semakin Tinggi Penekanan Hidup, Semakin Aneh Sistem Rileksasinya



menurut okeplay777 Jika kamu pernah ke Jepang, kamu kemungkinan setuju bila warganya dapat disebut selalu terburu-buru dalam jalankan kegiatannya. Mereka jalan cepat seperti lomba lari jalan kaki. Mereka kerap memburu agenda bis atau kereta yang hendak mereka naiki karena di situ haram hukumnya bila telat. Bahkan juga telah jadi rahasia jika semangat kerja yang tinggi sekali di Jepang sampai mengakibatkan peristiwa ‘karoshi‘, kematian karena umumnya kerja.


Tingginya kekuatan depresi di Jepang merupakan permasalahan serius dalam penduduknya. Tahun 2016 lalu, pemerintahan Jepang berusaha meminimalkan penekanan hidup warganya dengan ketentuan untuk memotong jam kerja. Di tingkat warga sendiri, beberapa tips melepas depresi jadi ulasan terkenal. Bahkan bisa saja karena sangat stresnya, beberapa cara orang Jepang turunkan depresi termasuk sangatlah unik dan esktrem. Seperti 6 langkah edan yang Hipwee sudah kumpulkan berikut ini.

1. Trend terkini untuk membunuh depresi di Jepang adalah membuntel diri dengan baju ketat. Bukanlah berasa teraniaya, mereka malah berasa lega lho


Orang Jepang mengatakan dengan Zentai, langkah unik mereka untuk menentramkan diri. Beberapa orang bermacam umur dan karier akan kenakan baju ketat yang tutupi semua badan mereka. Sudah pasti ini bukanlah baju biasa, tetapi baju yang disebut satu kesatuan yang dijahit khusus untuk tutupi semua badan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Yap serupa baju Spiderman, tetapi tanpa design ciri khas di laba-laba merah. Baju ini dengan bahan lycra dengan struktur plastis yang dapat membuat badan. Saat depresi, mereka tidak akan enggan kenakan baju ini saat rapat atau jalanan ke bermacam tempat.

Malah dibalik baju ketat yang digunakan, mereka yakin dapat berasa kendur dan tidak ketekan. Seperti bentuk perlawanan atau versus paradoks dari kehidupan mereka. Dalam kehidupan riil, walau terlihat biasa-biasa saja di luar, sebetulnya beberapa orang yang ketekan dan depresi. Nach dengan menggunakan baju yang fisik mengungkung, rupanya beberapa orang malah berasa ‘terbebaskan’.

2. Saat depresi mulai dirasakan, warga Jepang kerap mengaplikasikan pergerakan tangan ninja ala-ala Naruto


Jika kamu demikian menyukai tontonan Jejepangan, tentu sudah tidak asing dengan yang bernama ninja. Tehnik ninjutsu terutamanya pergerakan tangannya, rupanya punyai manfaat turunkan depresi. Dalam riset terkini, salah satunya tehnik ninjutsu populer namanya Kuji Kiri atau Sembilan Potongan dipercaya dapat menangani depresi dan mempertajam otak menurut okplay7. Mereka yang sering lakukan pergerakan ini, bisa dibuktikan mempunyai tingkat fokus yang tinggi, rasa resah turun, dan dapat cepat berasa santai. Walaupun ninja telah sangat jarang, tetapi tehnik ini masih bermanfaat.

3. Ada Otona Maki

namanya. Langkah rileksasi unik dengan bingkisan kain, seperti bayi yang dibedong

Otona Maki adalah langkah rileksasi dengan membuntel diri kita memakai selimut tipis. Walaupun kedengar konyol, langkah ini betul-betul terkenal di negeri sakura. Sama seperti pada bayi yang dibedong untuk memperoleh perasaan nyaman seperti saat ada dalam kandungan, sistem ini dipercayai dapat memberi perasaan nyaman dan hilangkan kegundahan. Awalannya therapy ini dilaksanakan oleh beberapa wanita saat melahirkan. Mereka akui jika sesudah dibuntel sepanjang 20 menit, badannya akan berasa hangat. Beberapa periset menerangkan jika tehnik ini dapat berperan karena otot-otot yang tertekuk dalam status itu bisa hasilkan panas. Dapat disebut, ini salah satunya dari wujud olahraga kali ya.

4. Membanting gelas dan piring juga mereka kerjakan untuk melepaskan kemarahan dan menurunkan depresi. Yang ini agak berlebihan sich


Tidak dapat disangkal, saat depresi dan ditambah lagi dengan geram, seorang akan berasa di luar kendalian. Cukup banyak orang Jepang yang selanjutnya melepaskannya dengan berlebihan seperti membanting barang apa saja yang ada di sekitaran mereka. Menyaksikan ini seolah sudah membudaya, seorang masyarakat Jepang namanya Katsuya Hara selanjutnya menjadikan sebagai kesempatan usaha. Ia buka usaha therapy menangani depresi yang namanya The Venting Place. Pada tempat ini umumnya pegawai yang merasa terhimpit dengan kerjanya akan tiba dan beli beberapa perlengkapan pecah iris, lalu melemparkankannya ke tembok sesenang hati. Takut ya?

5. Festival ini khusus dibikin buat mereka yang ingin berteriak. Setiap tahunnya, beberapa ratus peserta akan berperan serta dalam ‘Shouting Festival‘ di Yufu, Oita, Jepang


Keluarkan emosi secara fisik, memang sejak dahulu telah dipercayai sebagai langkah efisien untuk kurangi depresi. Jika di beberapa kota besar di Indonesia, paling ya tempat karokean menjadi tujuan khusus. Agar dapat teriak sepuas hati. Nach di Jepang, sistem ini dibuat festival nasional. Bukan festival karokean, tetapi festival meneriakkan semua keluhan yang terkubur di hati. Antiknya, dalam festival ini bakal ada juara yang akan bisa hadiah. Ketentuannya, siapakah yang dapat berteriak paling keras bakal menjadi juara festival khusus ini.

6. Paling akhir, di Jepang ada buku khusus namanya ‘Sukatto notepad’. Ini sebagai buku catatan pertama di dunia yang dibikin untuk kurangi depresi


Banyak sekali langkah untuk hilangkan depresi, satu diantaranya adalah dengan menyobek-robek kertas. Menyaksikan kekuatan ini, salah satunya perusahaan di Jepang membuat produk baru namanya Sukatto notepad yang dibikin khusus untuk dirobek-robek untuk kurangi depresi dalam kehidupan. Saat sebelum betul-betul dikeluarkan, riset lumayan serius telah terlebih dahulu dilaksanakan. Buku catatan ini juga punyai dasar ilmiah untuk mengeklaim perannya turunkan depresi. Kertas yang dipakai cuma kertas biasa yang dipakai untuk kantong berbelanja. Tipe ini diputuskan karena suara dari robekannya dapat kurangi depresi. Perusahaan mengeklaim, kesannya ditanggung berlainan dibanding menyobek kertas biasa. Harga sama dengan Rp 50 ribu untuk 30 helai.

Semuanya orang tentu pernah merasakan babak depresi dalam kehidupannya. Entahlah itu karena beban tugas, jumlahnya pekerjaan kuliah, putus cinta, atau bermacam keadaan yang lain. Supaya tidak terlarut dan justru berpikir untuk bunuh diri, sebaiknya kamu mengikuti orang Jepang dalam menangani depresi mereka. Yok segarkan kembali pikiranmu dan jangan dibiarkan depresi mengeram kelamaan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*